Hearty Service Trainer

Senyum, Senjata Ampuh yang Terabaikan

senyum#1.001Siang itu saya benar-benar seperti Dian Sastro Wardoyo. Bukan soalnya wajah cantiknya atau indah rambutnya… bukan. Ini soal hilang fokus di area umum hehe… Ceritanya, di bawah terik mentari yang menyengat kota Surabaya, saya hendak mengisi bbm kendaraan saya. Entah karena saya yang lebih sering membawa mobil solar atau memang karena saya mengalami dehidrasi ringan, alhasil saya pun langsung meluncur ke tempat pengisian solar.

Tiba-tiba, ibu saya yang duduk di sebelah saya mengingatkan “Loh, bukannya Juke itu pake bensin?”

Seketika saya pun tersadar. Tanpa membuang waktu panjang, saya langsung memundurkan kendaraan dan berniat bergeser ke jalur bensin.

“Ttttttiiiiiinnnnnnnn”, kejutan berikutnya datang dari seorang pengendara Suzuki Ertiga yang nyaris tertabrak oleh mobil bagian belakang saya.

Untung refleks kaki saya menginjak rem. Kecelekaan pun bisa terhindarkan. Namun ternyata urusannya masih panjang. Si Bapak pengemudi Ertiga menurunkan kaca jendelanya. Dari spion saya bisa melihat jelas kilat kemarahan di matanya. Di dalam mobil, Ibu saya begitu cemas karena untuk sekian lama si Bapak tak menjalankan mobilnya. Tampaknya ia menunggu reaksi dari saya. Dan reaksi saya… saya memilih tidak merespon kilatan mata si Bapak. Saya memilih tetap menginjak rem dan mempertahankan agar mobil tak bergerak mundur lagi sambil beristighfar karena memang saya salah.

Singkat cerita, akhirnya mobil kami sejajar di Pom bensin itu. Tangki mobil saya di kanan, sementara tangki mobil si bapak ada di kiri. Jadi mobil kami mengapit mesin bensin yang sama. Saat saya menurunkan kaca jendela saya untuk berbicara dengan operator pom, si Bapak juga menurunkan kaca jendela kirinya. Praktis pandangan kami beradu dengan disaksikan beberapa pasang mata yang sejak awal kejadian memang ada di lokasi. Seperti dugaan saya, mata si Bapak masih berkilat penuh amarah. Dan saya membalas tatapan tajam itu dengan senyum dan anggukan kepala sopan. Iya… senyum saja. Senyum setulus-tulusnya.

Ternyata, persis seperti kata ilmu pelayanan. Senyum adalah senjata yang sangat ampuh untuk menundukkan agresivitas. Si Bapak yang tadinya tampak marah, jadi keki dan salah tingkah. Ia menarik tatapan marahnya dan setelah berproses sekian waktu, akhirnya ia pun membalas senyum saya dan anggukan kepala ramah pula. Kami pun berpisah di pom bensin itu dengan senyuman tersungging di wajah dan saling mengklakson ringan. Dan mungkin si Bapak pergi dengan deretan prasangka di pikirannya. “Apakah si mbak mengenal saya?”, “Apakah saya begitu memesona?” dan pertanyaan tidak penting lainnya haha…

Karena kini yang terpenting adalah… Senyum saja. Jangan abaikan senyum, karena senyum adalah senjata yang ampuh yang banyak sekali manfaatnya seperti:

  1. Menjadikan hubungan antar-manusia lebih mudah
  2. Merupakan simbol sebuah sambutan atau penerimaan pada orang lain
  3. Meyakinkan orang lain
  4. Meluluhkan sikap agresif
  5. Menunjukkan rasa percaya diri yang kita miliki
  6. Apalagi menurut Anda?

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What They Say

Follow Me