Hearty Service Trainer

Sekeping Cerita di Hari Jum’at

Jumuah Mubarok

Jumuah Mubarok

Jumuah Mubarok. Hari ini banyak sekali sahabat dalam kontak list saya yang memasang status ini di ponsel pintarnya. Seakan pengingat bagi saya bahwa Jumat adalah hari raya tiap pekan dengan berbagai kemuliaan dan keutamaan di dalamnya.

Mengawali hari dengan menyadari keutamaan hari ini menjadi sangat berarti. Setelah mengantarkan si bungsu ke sekolah TK pagi ini, saya langsung menuju LBB (Lembaga Bimbingan Belajar) si sulung yang sudah kelas enam, untuk mengurus beberapa hal.

Saat baru turun dari kendaraan di depan kantor LBB, seorang ibu yang berpakaian sangat sederhana sambil menuntun sepeda anginnya menghampiri saya.

“Nak, nuwun sewu ajeng ngrepoti” (bahasa jawa: Nak, permisi saya mau minta tolong)

Setelah mendengar penjelasan panjang lebarnya dalam bahasa jawa, saya memahami masalahnya. Ia memiliki anak perempuan yang kini sekolah di salah satu SMK negeri di kota saya, jurusan Tata Boga. Si ibu kini sedang kesulitan keuangan untuk membayar buku pelajaran. Ia bermaksud menjual jam tangan milik anak sulungnya (jam tangan bekas, tentunya) demi mendapat uang untuk membayar buku anaknya yang kedua. Totalnya sebesar Rp. 232.500,- seperti yang tertera dalam lembar daftar buku dan harga yang ia bawa dalam dompetnya.

Sekilas langsung terbersit syukur dalam hati saya, Tuhan beri saya kesempatan membantu si ibu di hari yang sangat mulia.

Namun sejurus kemudian, ada yang berbisik dalam hati saya:

“Bisa aja dia ngarang!. Sekarang banyak banget modus penipuan!”

“Bisa aja dia lakukan ini ke banyak orang. Lihat saja timing kemunculan dia. Pas banget kan? pas kamu turun dari kendaraan. Pasti ia punya tempat sembunyi untuk mengintai mangsanya”

“Lihat lembar daftar bukunya. Itu pasti hasil ngeprint sendiri. Kalo resmi dari sekolah pasti ada kop surat secara resmi. Ingat kemarin kamu juga dapat daftar buku anak-anakmu dari sekolahnya. Ada kopnya kan?”.

“Kamu kan kenal sama salah satu guru di SMK tersebut, nomernya ada di HPmu, telp saja guru itu untuk memastikan apa benar nama siswa itu ada! Dan memang sedang butuh uang untuk bayar buku pelajaran”

Beberapa waktu saya merasa seperti sedang berada dalam film yang menggambarkan seorang pemain sibuk dengan pikiran dan hatinya, sehingga apapun suara yang ada diluar dirinya tak terdengar lagi olehnya. Begitulah saya. Beberapa saat saya berdiri mematung di depan si ibu yang entah berbicara apa, tenggelam oleh kerasnya suara-suara dalam diri saya. Tak berhenti disitu, saat kecurigaan kian membuncah, menggemalah bisikan-bisikan dari sisi lain hati saya:

“Keluarkan sedekahmu. Ini bukan untuk membantu dunianya, tapi ini untuk membantu akhiratmu.”

“Jumat adalah hari dimana sedekahmu ibarat sedekah pada bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya. Sedekahlah.”

“Sedekah itu karena Allah. Bukan karena si ibu. Jadi, tak perlu kau mencari tahu apakah si ibu jujur atau tidak. Sedekahlah”

“Sedekahlah. Meski si ibu bohong, dia masih tetap layak kau bantu. Lihat kendaraanmu, dan lihat sepeda si ibu. Ia pantas menerima sedekahmu”

“Sedekah itu urusanmu dengan tuhanmu. Bukan urusanmu dengan si ibu. Sedekahlah.”

Astaghfirullahal’adzim. Sepatah kata itu tiba-tiba menghidupkan saya kembali.

Ternyata, saya masih harus banyak belajar. Meski telah berulangkali saya membawakan materi ON dari Gurunda Jamil Azzaini, yang salah satu isinya tentang aksi strategis dalam berActiON: kerja ikhlas, libatkan Allah… ternyata dalam banyak hal kecil saya masih sering harus berperang untuk mencapai penglibatan dan penghadiranNYA dalam dada.

Astaghfirullahal’adzim. Betapa takutnya saya jika menjadi seorang hamba yang mengajarkan ilmuNYA namun tak mengamalkannya. Betapa hinanya saya ketika hanya menyerukan kebaikan pada sesama namun saya sendiri masih berjuang untuk mengusahakannya. Ya Allah Ya Ghofar, ampunilah hambaMU ini.Astaghfirullahal’adzim. Sepatah kata itu tiba-tiba menghidupkan saya kembali.

Ternyata, saya masih harus banyak belajar. Meski telah berulangkali saya membawakan materi ON dari Gurunda Jamil Azzaini, yang salah satu isinya tentang aksi strategis dalam berActiON: kerja ikhlas, libatkan Allah… ternyata dalam banyak hal kecil saya masih sering harus berperang untuk mencapai penglibatan dan penghadiranNYA dalam dada.

Astaghfirullahal’adzim. Betapa takutnya saya jika menjadi seorang hamba yang mengajarkan ilmuNYA namun tak mengamalkannya. Betapa hinanya saya ketika hanya menyerukan kebaikan pada sesama namun saya sendiri masih berjuang untuk mengusahakannya. Ya Allah Ya Ghoffaar, ampunilah hambaMU ini. Ya allah ya Salaam, kami mohon kepadaMU keselamatan agama kami, kesehatan kami, bertambahnya ilmu kami, keberkahan dalam rezeki kami, terima taubat kami sebelum kami mati, berikan rahmat saat kami mati dan ampuni kami sesudah kami mati. Amin.

 

Sumber: www.amayangsari.com

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What They Say

Follow Me