Hearty Service Trainer

Rutinitas Kerdilkan Hati

Image courtesy of  Piyaphon atFreeDigitalPhotos.net

Image courtesy of Piyaphon atFreeDigitalPhotos.net

Pada musim yang ekstrim seperti akhir-akhir ini, banyak sekali saudara, tetangga atau sahabat saya yang sakit. Beberapa dari mereka bahkan harus dirawat di rumah sakit. Dari sekian pengalaman saya menjenguk hingga menjaga keluarga atau teman yang sakit, ada benang merah yang bisa saya simpulkan.

“Mungkin karena sudah terbiasa liat orang sakit, perawat-perawat di sini sepertinya santai saja ya menangani orang sakit. Masak istri saya sudah kesakitan banget, saking sakitnya sampe bajunya basah karena keringat bahkan kakinya uda terasa dingiin banget… eh susternya santai saja menanganinya,” ungkap seorang suami dari teman saya.

“Iya, Pak bener. Kapan hari suami saya sampe bentak susternya gara-gara mereka bawa ibu mertua saya yang uda lemes banget karena diare akut sambil ketawa-ketawa. Bergurau gitu sama sesama perawat yang mendorong tempat tidurnya,” sambung seorang sahabat yang datang menjenguk bersama saya.

Memang dalam sebuah ilmu pengembangan diri, disebutkan bahwa untuk bisa mencapai kondisi yang tenang kita harus bisa menguasai diri dan menguasai ilmu. Dalam kasus seperti diatas, memang banyak keluarga pasien yang tidak menguasai ilmu medis. Sehingga reaksi keluarga si sakit biasanya tidak tenang, khawatir hingga ketakutan. Padahal, bisa jadi  bagi mereka yang mengetahui ilmunya, termasuk para perawat dan tenaga medis, kondisi si pasien masih dalam tahap aman, ibarat sebuah istilah “masih jauh dari nyawa”.

Namun demikian, rasa sayang keluarga pasien terhadap si sakit akan memberikan pengaruh tersendiri. Sangat wajar jika mereka yang menyayangi, tidak akan tega melihat orang yang disayangi menderita dan merasakan sakit. Rasa inilah yang akhirnya bisa bertransformasi menjadi perasaan khawatir, takut dan cenderung akan marah jika ada yang tampak tak peduli dengan orang yang disayanginya.

Banyak dari kita yang karena telah melakukan suatu pekerjaan berulang – ulang, menjadi rutinitas, akhirnya kita kurang peka menggunakan hati kita. Kita kurang peka terhadap perasaan yang muncul dari hati. Hingga kurang peka terhadap perasaan orang-orang di sekitar kita, termasuk orang yang kita layani.

Ibarat seorang siswa yang belum pernah menyontek saat ujian, tentu ia akan sangat ketakutan. Ia akan khawatir ketahuan. Hatinya akan berontak, mengatakan menyontek adalah hal yang tidak dibenarkan. Dampaknya tubuhnya akan bereaksi seperti jantung yang berdebar, tangan yang berkeringat, wajah yang tegang dan lain-lain. Namun bagi mereka yang telah terbiasa menyontek, maka suara hati yang berontak tak akan terdengar lagi. Reaksi tubuh yang tidak wajar akan bisa diredam.

Itulah kekuatan rutinitas, ia akan bisa mengerdilkan hati. Dan tentunya, dalam konteks pelayanan hal ini sangat tidak dianjurkan. Karena untuk memenangi hati orang yang kita layani, kita hanya bisa mengandalkan hati. Dan bukan dengan hati yang terkerdilkan oleh rutinitas.

3 Comments

  1. 13/03/2014    

    Nice artikel … memang sering terjadi dalam keseharian kita, karena sudah dianggap sebagai rutinitas sehingga menumpulkan empati.

    Salam kenal juga 🙂

    Salam SuksesMulia

    • 17/03/2014    

      Thank you mas Denni.
      Sangat setuju. Rutinitas yang tak dikuatkan dengan strategi dan tidak diselaraskan dg visi akan menumpulkan empati.

      Salam kenal dan SuksesMulia

  2. 12/11/2018    

    nicee
    terima kasih sudah di tulis min
    dah aku dengar kata jangan membenarkan kebiasaan atau rutin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What They Say

Follow Me