Hearty Service Trainer

Monyet dan Saya

Courtesy of inmagine.com/wses296/wses296649-photo

Courtesy of inmagine.com/wses296/wses296649-photo

Pernahkah Anda dengar dongeng tentang monyet dan angin?

Saya lupa darimana saya pertama membaca atau mendengar dongeng ini. Namun beberapa kali saya menceritakannya kepada anak-anak saya saat mereka berangkat tidur. Beberapa kali ini bukan hanya karena ini adalah dongeng favorit mereka, tapi juga karena keterbatasan koleksi dongeng dalam ingatan saya hehe…

Dengan berbagai gubahan yang saya buat, inilah kurang lebih ceritanya. Alkisah, hiduplah seekor monyet di atas pohon. Suatu saat Tuhan mengujinya dengan angin puyuh. Tahu ada bahaya yang mengancam, sang monyet berpegang erat pada dahan pohon. Fiuhh… dia bersyukur karena ia bisa bertahan dia atas pohon. Tak lama kemudian Tuhan mengirimkan angin puting beliung. Begitu mengetahui ada hembusan angin yang sangat kuat, sang monyet serta merta berpegangan erat pada dahan pohon. Ia pun bersyukur untuk kedua kalinya masih bisa selamat dan bertahan diatas pohon. Tidak berhenti sampai disitu, Tuhan mengirimkan badai. Mengetahui badai datang menerpa, sang monyet berpegang sekuat tenaga pada dahan pohon tempatnya bernaung (tolong jangan dipermasalahkan kenapa pohonnya ga tumbang atau tercabut ya. Namanya juga dongeng hehe…). Monyet sangat bersyukur. Badai telah berlalu dan ia selamat.

Langit pun kembali cerah. Burung-burung hinggap dan berkicau di dahan pohon tempat dimana sang monyet berada. Angin semilir berhembus. Nikmat sekali. Sang monyet pun terbuai. Terkantuk-kantuk ia di atas dahan. Langit cerah, kicauan burung dan hembusan angin semilir adalah kombinasi tepat pengantar tidur sang monyet. Ia pun mulai menapaki alam mimpi nan Indah. Braaakkkk!!! Jatuhlah sang monyet.

Saya tak akan membahas pesan moral dari cerita di atas. Toh kita tentu sudah tahu bahwa intinya kita seringkali kuat menahan cobaan yang sifatnya ujian, namun terkadang kita malah gagal saat cobaan itu berupa pujian (eh, ini namanya mbahas juga yah hehe…)

Saya jadi teringat peristiwa minggu lalu saat seorang HRD hotel bintang lima di Surabaya yang akan segera melakukan Soft Opening bulan September mendatang menghubungi saya terkait dengan training. Singkat cerita datanglah saya ke kantornya yang menyatu dengan sebuah pusat perbelanjaan baru ternama di jantung kota Surabaya. Saya datang bersama rekan yang saya percaya untuk pengaturan jadwal training saya. Dari pembicaraan yang panjang lebar barulah kami tahu bahwa yang diinginkan oleh Bapak ini adalah menjadikan saya sebagai Training Manager di hotel tersebut. Ya…sebagai karyawan, bukan sebagai external partner penyedia dan pelaksana pelatihan seperti yang saya kira.

“Beberapa waktu lalu saya ketemu Pak Amrul yang Training Manager hotel JW Mariott, dia merekomendasikan bu Mayang. Pas ketemu sama mas Hasan yang dulu bekerja bareng Ibu di Hotel Mercure, dia juga mengajukan nama bu Mayang. Dan ada beberapa teman yang saya temui, seringnya memang nama bu Mayang yang disebut untuk posisi TM yang masih vacant sampai sekarang.” Si Bapak belum tahu, ibarat burung, saya kini telah menjadi liar. Tidak suka tinggal di dalam sangkar meskipun terbuat dari emas. Beuhhh (maaf jika agak lebay…)

Dalam perjalanan pulang, dalam canda rekan saya bilang “Wuih, ternyata wis tercemar yo. Masak sak Suroboyo  semua ngrekomendasikan nama sampeyan untuk jadi Training Manager. Manteb tenan”. Saya pun menimpali, “Bukan aku ya yang ngomong. Ntar dikira sombong. Alhamdulillah memang dulu hotelku sering menjadi teladan untuk program trainingnya. Bahkan saat aku mengajukan resign, perusahaan berusaha menahanku dengan mempromosikan aku untuk level yang lebih tinggi. Bla…bla…bla…”.  Braaakkkkk!!!!!!

Saat bermuhasabah pada malam harinya, saya  baru menyadari bahwa siang tadi saya telah menjadi sang monyet. Jatuh dalam pujian. Pujian telah menjadikan saya sombong meski bagaimanapun saya mengemasnya. Ada kecongkakan yang menyeruak saat saya menceritakan prestasi saya di masa lalu. Ada kepongahan yang menyelinap dalam hati saat saya merasa masih dicari.

Saya lupa, tak ada kejadian atau kebetulan yang tanpa campur tangan Tuhan. Si Bapak HRD menghubungi saya bukan karena prestasi saya di masa lalu di bidang perhotelan atau karena apapun tentang saya dan apa yang telah saya perbuat. Si Bapak menghubungi saya karena Allah yang menggerakkan hatinya untuk mencari saya, karena Allah yang menuntun orang-orang disekitarnya untuk mengingat saya. Karena Allah mengijinkan ini terjadi.

Jauh ke dalam diri, saya lihat deretan aib dan dosa. Tuhan… ia mencari saya hanya karena ia tidak mengetahui deretan aib dan dosa ini. Tuhan, ia menghubungi saya, mengharapkan saya, karena murni Engkaulah yang menutupi semua aib dan dosa ini, hingga mampu hambamu ini berjalan tegak di muka bumi. Ampuni hamba ya Allah, atas dosa-dosa dalam kesungguhan dan canda hamba, yang hamba tampakkan dan hamba sembunyikan, yang hamba sengaja dan tidak sengaja. Sungguh Engkau sajalah yang mengetahui dosa-dosa hamba bahkan yang hamba sendiri tidak mengetahuinya.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What They Say

Follow Me