Hearty Service Trainer

Ketika Cinta Tak Berbalas

Setelah menikah, seorang istri tentara yang juga wanita karir punya dua pilihan. Selalu mengikuti kemanapun suami berdinas dengan konsekuensi jatuh-bangun dalam karirnya; atau bertahan di satu tempat dimana ia menekuni karirnya dengan kemungkinan harus LDR-an (Long Distance Relationship) saat suami pindah tugas.

Pada usia pernikahan saya tahun ke-7, yaitu di tahun 2009 saya dihadapkan pada pilihan ini dan memilih yang kedua. Ada dua hal mendasar yang menjadi pertimbangan saya dan suami ketika menjatuhkan pilihan untuk selalu menetap di kota Surabaya meski suami harus pindah dinas. Alasan yang pertama: kami mengutamakan aset utama kami: anak-anak. Beberapa kali mendengar cerita dari sahabat dan saudara yang keluarganya berpindah-pindah, akhirnya memberi dampak pada pendidikan anak-anak yang tidak kami inginkan. Alasan kedua: suami meyakini bahwa saya yang kala itu menjabat sebagai Training Manager di sebuah Hotel Berbintang memiliki potensi untuk berhasil dalam karir. Terlebih lagi saya adalah penguat perekonomian keluarga besar saya. Ayah dan ibu saya sudah memasuki usia non-produktif, sementara adik bungsu saya masih membutuhkan biaya untuk kuliah di pelayaran. Kami pun mantap untuk menjalani LDRan. Suami pindah tugas ke Jakarta, saya dan dua anak saya stay di Surabaya.

Sama seperti pasangan LDR lainnya. Awalnya semua begitu indah. Jarangnya pertemuan membuat kerinduan selalu membuncah dan pertemuan menjadi sesuatu yang begitu indah. Karena hanya cinta yang terasa, maka perselisihan pun jarang menyela. Namun ternyata, singkatnya pertemuan ibarat pisau bermata dua. Ia bisa begitu indah namun juga bisa menjadi sumber masalah.

Dalam pertemuan yang singkat, tentu sebagai istri saya ingin mendapatkan perhatian terpusat. Meski tetap harus berbagi dengan dua anak saya yang memang saat itu saya rasakan lebih dicintai oleh suami saya. Berbagai insrospeksi diri pun saya lakukan. Apa saya sudah tak secantik dan semenarik dulu? Apakah setelah melahirkan anak yang kedua, saya sudah tak bisa membuatnya bahagia? Mengapa terasa suami hanya ‘menggunakan’ saya seperlunya? Beragam perawatan pun rutin saya lakukan. Mulai dari facial, totok wajah, sauna, spa hingga yoga. Semua demi mendapatkan kembali cinta yang dulu besar untuk saya.

Saat jadwal suami pulang ke Surabaya, jam berapa pun sampai di rumah, saya selalu berusaha menyambutnya dalam penampilan terbaik saya. Senyum setulus hati, parfum yang wangi serta lingerie sexy. Namun, hanya malam itu saja semuanya begitu luar biasa. Esok harinya suami pasti lebih memilih menghabiskan waktu dengan anak-anak dan mobil kami. Ya…. mobil kami. Setiap pulang ke Surabaya, suami selalu menyempatkan mencuci mobil, menyemir ban bahkan mengisi bahan bakarnya. Ia pun lebih senang mengajak anak-anak berkeliling dan kepada saya ‘hanya menawari’ apakah mau ikut. Rasanya lagu Dewi Sandra “Kapan Lagi Bilang I Love You” yang ngehits kala itu menjadi ungkapan hati yang ‘gue banget’ buat saya.

Berbagai rubrik di media mengenai balada hubungan LDR-an saya baca. Kisah teman atau saudara yang senasib dengan saya pun saya cermati. Bebagai spekulasi pun muncul. Termasuk kecurigaan hadirnya pihak ketiga.

Namun ternyata itulah akibat dari kurangnya pengetahuan dalam berkeluarga dan membina hubungan pada umumnya. Kala itu saya merasa telah mencinta suami saya sepenuh jiwa, memberikan yang terbaik baginya, namun saya merasa tak mendapatkan balasan yang sama. Jawaban dari permasalahan akhirnya saya dapatkan pada sebuah buku istimewa dari seorang sahabat saya. Dari buku itu saya tahu bahwa ternyata saya dan suami berbicara dalam bahasa cinta yang berbeda. Bisakah Anda bayangkan? Saat dua insan berbincang dengan dua bahasa yang berbeda yang dua-duanya hanya paham bahasanya masing-masing? Ga nyambung bukan? Ternyata cinta pun punya bahasa, bahkan ada lima jenisnya. Dan bisa jadi bahasa cinta Anda berbeda dengan bahasa cinta pasangan Anda.

Inilah penyebab masalah tidak lancarnya sebuah hubungan. Banyak orang yang belum menguasai ilmu menjalin cinta, saat mendapatkan masalah langsung menyimpulkan bahwa “Sudah tidak ada kecocokan lagi diantara kami”, dst. Ibarat orang buta yang diminta mendeskripsikan bentuk dari gajah. Saat ia hanya meraba ekornya saja, maka baginya gajah adalah binatang yang kecil nan panjang laksana ular. Saat ia meraba hanya telinganya saja, maka gajah hanyalah sebuah lembaran tipis nan lebar. Maka penting bagi kita untuk menguasai ilmu menjalin cinta termasuk memahami kelima bahasanya. Apa saja lima bahasa cinta itu? Silahkan Anda simak disini. 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What They Say

Follow Me