Hearty Service Trainer

Hati Sang Dokter

 Tersebutlah kisah seorang ayah yang tengah menunggui anaknya yang sedang kritis di sebuah rumah sakit. Dari raut wajahnya, si ayah ini menampakkan rasa cemas dan gelisah. Berulang kali ia mondar-mandir bertanya kepada suster kapan dokter akan datang. Hari ini memang telah dijadwalkan anaknya akan dioperasi. Suster menjawab dengan lembut dan menyuruhnya bersabar karena sang dokter tengah dalam perjalanan. Namun jawaban yang lembut tidak mampu menyurutkan emosi yang semakin lama berubah menjadi geram dan marah menyaksikan anaknya yang tergeletak lemah di ruang operasi karena sang dokter tak kunjung tiba.

 
Selama sekian jam lamanya menunggu, sang dokter akhirnya tiba. Di tengah lorong menuju kamar operasi ia menghadang sang dokter untuk mengungkapkan kekecewaannya karena terlambat dari jadwal yang ditentukan. Dengan ketus laki-laki itu mencecar sang dokter, “Kenapa lama sekali dokter! Tidak tahukah Anda anak saya sedang kritis? Mana tanggung jawab Anda sebagai dokter?”

 
Dokter bedah itu menjawab dengan tenang sambil tersenyum, “Saya mohon maaf Pak. Saya sangat menyesal atas keterlambatan ini. Tadi saya sedang berada di luar, tetapi begitu dihubungi saya langsung menuju ke sini. Semoga sekarang Bapak dapat merasa tenang karena operasi akan segera dilaksanakan. Doakan ya Pak, semoga saya dapat melakukan tugas ini dengan baik dan semua berjalan lancar.” Keramahan sang dokter ternyata tidak meredakan amarah si bapak, bahkan suaranya kian keras, “Anda bilang apa? Tenang!? Sedikit pun Anda tidak peduli rupanya. Apakah Anda bisa tenang jika anak Anda yang sekarat? Apa yang akan Anda lakukan jika anak Anda meninggal?”

 
Sambil tetap mengulas senyum dokter itu melanjutkan, “Maaf Pak, saya hanyalah seorang dokter. Saya tidak dapat memperpanjang usia tidak juga dapat memendekkannya. Usia di tangan Tuhan. Dan kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan putra Anda. Kalau boleh saya memberi saran, sebaiknya Bapak pergi ke musala rumah sakit untuk melaksanakan salat dan berdoa agar Allah menyelamatkan anak Anda. Saya permisi dulu Pak ya!”

 
Ayah anak kecil itu masih terus menggumam dengan sinis ketika sang dokter bedah itu berlalu dan memasuki ruangan operasi, “Nasihat itu memang mudah, apalagi untuk orang yang tidak punya hubungan dengan Anda.”

 
Karena sudah tidak bisa berbuat apa-apa, ia pun duduk menunggu proses operasi berjalan sambil berkomat-kamit memanjatkan doa. Selang waktu operasi berlangsung beberapa jam. Pintu kamar operasi pun terbuka. Ayah pasien anak ini pun berdiri menyambut dengan penuh harap. Tampak dokter ahli bedah ini keluar tergesa-gesa dari dalam ruangan operasi sambil berkata kepada orangtua si pasien, “Berbahagialah Pak, alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Anak Anda akan baik-baik saja. Maaf, saya harus segera pergi. Perawat akan menjelaskan kondisi anak Anda lebih rinci.” Digenggamnya tangan ayah pasien erat-erat.

 
Orangtua pasien tersebut membalas genggaman itu. Dari mimiknya menunjukkan begitu banyak pertanyaan yang ingin dia sampaikan. Tetapi sang dokter segera melepaskan genggaman tangannya dan beranjak pergi. Tidak lama kemudian, keluarlah seorang perawat dari ruangan operasi menemuinya. Seketika orangtua pasien itu berkata, “Ada apa dengan dokter egois itu, tidak sedikit pun memberi kesempatan kepada saya untuk bertanya tentang kondisi anak saya?”

 
Tak disangka, tiba-tiba perawat tersebut menangis berlinang airmata seraya berkata, “Bapak nanti bisa bertanya kepada saya tentang hal-hal yang ingin bapak tanyakan. Mohon dimaafkan karena kemarin putra dokter meninggal dunia akibat kecelakaan Pak. Ketika tadi kami hubungi, beliau sedang bersiap-siap untuk menuju pemakaman untuk menguburkan putranya itu. Apa boleh buat, kami tidak punya dokter bedah yang lain. Oleh karena itu begitu selesai operasi dia bergegas pulang untuk melanjutkan pemakaman putranya. Dia telah berbesar hati meninggalkan sejenak segala kesedihan atas anaknya yang meninggal demi menyelamatkan hidup anak Anda.”

 
Sebuah pelajaran yang luar biasa dapat kita petik dari cerita di atas. Dokter ini melakukan service dengan sepenuh hati. Dia tetap menangani pasiennya yang panik dan memarahinya tanpa mengeluh apalagi membalas. Mungkin kalau orang lain yang jadi dokter akan berpikir, “Sudah, saya tidak mau ngurus karena masalah saya lebih besar. Saya sedang sedih. Anak saya meninggal.”

 
Coba bayangkan hal yang terjadi pada dokter tersebut menimpa kita. Kira-kira apakah kita bisa tegar dan melayani dengan sepenuh hati kepada orang lain yang demikian sinis dan tidak mau mengerti apa masalah kita?. Sebaliknya orang yang tidak memiliki rasa empati cenderung menuntut customer-nya untuk mengerti posisi dia. Dia akan dengan mudah menyalahkan kondisi yang menyebabkan dia tidak bisa melayani dengan maksimal. Misalnya komputer yang lemot, teman yang tidak masuk karena sakit, jam pelayanan yang hampir habis/tutup, schedule kerja yang padat, dan lain-lain.

1 Comment

  1. 06/03/2019    

    dia akan dengan mudah menyalahkan kondisi yang menyebabkan dia tidak bisa melayani dengan maksimal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What They Say

Follow Me

Error: To protect our users from spam and other malicious activity, this account is temporarily locked. Please log in to https://twitter.com to unlock your account.