Hearty Service Trainer

Dapur Pahala

Image courtesy of inmagine.com

Image courtesy of inmagine.com

“Wih enak, Ma. Lebih enak buatan mama daripada capcay yang kita beli”. Pasti seorang ibu yang mendapatkan pujian seperti ini dari anaknya akan merasa sangat senang. Semua lelahnya hilang. Itulah yang saya rasakan siang ini saat memasak untuk anak pertama saya dan teman-temannya yang lagi main ke rumah.

Padahal saya dulu tidak suka dan tidak bisa memasak. Namun sejak menyandang gelar sebagai seorang istri saya berusaha untuk bisa melakukan tugas ini dengan baik. Saat suami mau datang (awal menikah dulu kami LDR-an), saya telepon ke ibu atau kakak saya bagaimana cara memasak ini atau itu. Bahkan saya juga pernah ngambeg urusan masak hehe… Itu terjadi setelah secara tidak sengaja suami saya keceplosan jika salah satu masakan saya tidak enak.

Setelah mendapat ‘komplain’ itu, saya bilang saya tidak akan mau memasak lagi. Daripada membuang waktu dan biaya, hasilnya juga belum tentu enak, mending beli saja. Toh, saya merasa sebagai istri saya juga bekerja dan berpenghasilan. Astaghfirullah, sebuah keputus-asaan yang dibalut kesombongan.

Seiring dengan berjalannya waktu dan pengalaman bekerja di dunia hospitality saya pun belajar. Ketika sebuah pelayanan hanya dianggap sebagai beban, sebagai tugas, bukan sebagai proses yang dinikmati, maka kita akan mudah stress, menderita tekanan batin, bahkan sakit hati saat yang dilayani tidak puas atau komplain. Tak jarang hal ini akan membawa kita pada keputus-asaan hingga kerdilnya hati untuk melayani.

Namun ketika sebuah pelayanan dimaknai dengan tepat, kita akan lebih bisa menikmati dan bertumbuh selama berproses melayani. Saya teringat pada pesan guru saya, bahwa melayani itu adalah ladang pahala. Saat kita melayani atau menolong orang lain, pada saat yang sama kita menolong diri sendiri. Ketika kita melayani orang lain berarti kita telah menolong dunianya, dan saat itu juga ia telah menolong akhirat kita.

Seperti Mahatma Gandhi pernah berkata: Customer adalah orang terpenting bagi kita, dia tidak bergantung pada kita. Kita yang bergantung pada mereka. Dia bukanlah gangguan dalam pekerjaan kita. Dia adalah tujuan kita bekerja. Dia bukan orang luar bagi bisnis kita. Dia adalah bagian dari bisnis kita. Kita tidak membantunya dengan melayaninya. Dialah yang membantu kita dengan memberikan kita kesempatan untuk melayaninya.

Dengan sebuah pemaknaan yang tepat, kini kapan pun saya masuk ke dapur yang saya lihat adalah hamparan pahala. Tak ada lagi rasa terpaksa untuk melakukannya. Dan alhamdullillah, dari segi rasa, masakan saya kini juga makin cetar membahana. Maaf ini bukan promosi, karena saya tidak berniat membuka cabang hehe…

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What They Say

Follow Me