Hearty Service Trainer

5 Langkah Kunci Powerful Story Telling

Powerful Story TellingSetelah mengetahui pentingnya memiliki keahlian menyampaikan cerita dalam artikel ini, kita perlu tahu langkah-langkah yang harus kita kuasai agar cerita kita berdampak. Ingat, cerita hanyalah sebuah obyek. Artinya, ia bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Sehingga cerita yang sama akan bisa disampaikan secara berbeda saat perspektif yang digunakan berbeda. Dan ini langkah yang harus dilakkan agar cerita kita powerful.

 

1. Gali pengalaman hidup Anda

 

Yah, Anda hanya perlu mengadakan tour ke masa lalu Anda. Gali kembali pengalaman hidup Anda, mulai Anda TK -atau lebih kecil lagi-, SD, SMP, SMA, Kuliah, masa kerja, pernikahan, dan seterusnya. Kumpulkan cerita-cerita itu. Tulis dalam selembar kertas tentang garis besar cerita itu. Pasti yang Anda tulis adalah cerita yang berharga karena Anda masih bisa menemukannya dalam memori Anda. Anda juga bisa menggali cerita dari orang-orang terdekat Anda. Orang tua Anda, saudara, sahabat, pasangan hidup bahkan cerita putra/putri Anda.

 

Cerita mengenai diri Anda sendiri atau mengenai orang-orang disekitar Anda ini termasuk dalam level cerita tertinggi: Personal Stories. Level tertinggi atau level pertama karena hanya Anda yanng memilikinya. Anda yang memegang hak paten dari cerita itu.

 

Memangnya ada level cerita yang lain? Ya, ada dua level lagi. Yang kedua adalah: Other People’s Stories. Cerita orang lain yang Anda tidak kenal secara personal, namun ceritanya bisa menginspirasi. Ambil saja contoh cerita tentang Muhamad Yunus, Dahlan Iskan, dll (kecuali Anda kenal mereka secara pribadi ya hehe). Sedangkan level terendah adalah: Fictional Stories. Cerita yang tidak nyata seperti fabel, metafora, mitos atau bahkan cerita karangan yang tidak jelas kebenarannya namun masih bisa memberikan inspirasi. Sebut saja cerita tentang Kancil dan Buaya, Elang yang Dididik Ayam, Sangkuriang, dll.

 

Maka kini Anda tahu, bahwa personal stories adalah cerita yang tertinggi nilainya. Namun demikian, harus kita perhatikan bahwa dalam menyampaikan cerita pribadi HINDARI menjadikan diri Anda pahlawan. Selain bisa menimbulkan citra diri yang sombong, hal ini juga bisa menjadi beban bagi Anda sendiri yang akhirnya harus selalu tampak sesempurna pahlawan yang Anda ceritakan. And, nobody’s perfect, right?

 

So, make others the Hero. Jadikan orang lain dalam cerita Anda sebagai pahlawannya. Hal ini bukan berarti Anda tak boleh menjadikan diri kita pemeran utama. Anda boleh menjadi pemeran utama jika cerita Anda berkisah tentang kenakalan, kelemahan, kegagalan, keterpurukan di masa lalu. Hal ini berguna untuk menampakkan diri Anda yang seorang trainer adalah juga manusia biasa. Bukan malaikat tanpa cela. Namun Anda mampu bangkit dan berubah.

 

2. Tentukan tujuan dari cerita Anda

 

Saat Anda hendak menyampaikan cerita, penting bagi Anda untuk menentukan tujuan Anda bercerita. Action apa yang Anda harapkan akan dilakukan oleh audience Anda setelah mereka mendengarkan cerita Anda. Karena itu, tujuan cerita Anda harus jelas dan spesifik. Pastikan Anda memiliki 1 (satu) pesan sederhana dalam cerita Anda.

 

Setelah Anda tentukan tujuan dari cerita Anda, pastikan Anda membingkai cerita itu dengan dunia audience Anda. Selaraskan cerita Anda dengan nilai-nilai yang dipegang oleh Audience Anda. Disini pentingnya mengenal / mengetahui siapa Audience Anda sebelum Anda memberikan pelatihan.

 

Saya pernah mendapatkan pelajaran berharga mengenai hal ini. Saat itu saya diminta mengisi pelatihan pada sebuah perusahaan milik suatu yayasan. Saya mengangkat kisah seorang tokoh ternama yang menurut saya relevan dengan permasalahan mereka. Saat pelatihan usai, panitia mendatangi saya dan meminta saya untuk tidak menggunakan kisah tokoh tersebut lagi pada batch berikutnya hanya karena tokoh dalam cerita saya bukan penganut aliran yang sama dengan yayasan tersebut. Bahkan ada lagu yang saya gunakan saat itu yang juga masuk dalam blacklist mereka. See, penting sekali memahami Audience dan menggunakan world view mereka.

 

3. Buatlah struktur cerita Anda

 

Hal paling utama dalam penyampaian cerita adalah bagaimana menceritakannya dengan sangat efektif. Efektif berarti tepat sasaran sehingga hasilnya sesuai dengan harapan. Maka perlu bagi Anda untuk menstrukturkan cerita Anda.

 

Secara garis besar, cerita harus terdiri dari tiga unsur: situasi, konflik dan solusi. Situasi merupakan bagian awal dari cerita yang meliputi setting kejadian, karakter dalam cerita dan tujuan dari cerita tersebut. Bagian ini berguna untuk menjadikan pendengar mampu memvisualisasikan bagaiman kisah ini bermula dan siapa orang-orang yang ada dalam cerita. Tujuan yang dimaksud pada bagian ini adalah cikal-bakal ditemukannya insight atau pesan cerita.

 

Unsur kedua adalah konflik. Hal ini mutlak ada agar cerita yang disampaikan lebih membekas. Di bagian inilah kita harus mengekspos tindakan yang dilakukan, rintangan yang menghalang dan resiko yang dipertaruhkan. Ceritakan sedemikian rupa hingga membuat pendengar cerita menunggu dan penasaran terhadap kelanjutan cerita / bagian berikutnya.

 

Unsur yang ketiga adalah solusi. Ini adalah bagian dimana diuraikan apa keputusan yang diambil untuk menyelesaikan konflik yang terjadi, apa hasil yang akhirnya dicapai dan pelajaran apa yang bisa diambil dari cerita ini. pelajaran yang diambil ini hendaknya merupakan jawaban dari tujuan yang telah dibuat dibagian awal cerita. Maka kalimat yang digunakan sebagai penutu cerita hendaknya adalah kalimat perintah yang berupa ajakan untuk melakukan sesuatu. Berikut matrixnya:

greatstorymatrix

 

4. Jadikan cerita Anda jleb!

 

Untuk menjadikan cerita Anda jleb, menempel di memori audience, gunakan rumus SUCCESs seperti yang dianjurkan dalambuku: Made to Stick karya Chip Heath & Dean Heath)

 

Simple            : pastikan pesan Anda sederhana, mudah dipahami dan tunggal.

Unexpected : buat pendengar Anda penasaran, break the pattern, sertakan fakta ikuti dengan informasi intuitive

Concrete      : pastikan cerita Anda konkrit, mudah digambarkan di kepala, bisa ditangkap oleh panca indera

Credibility     :  pastikan ada otoritas didalamnya. Jika otoritas itu eksternal, pastikan ada pernyataan tokoh yang digunakan. Jika otoritas itu internal, buat audience mengalami sendiri, dll.

Emotional     : buat audience peduli dengan tujuan atau pesan cerita Anda. Bangkitkan perasaannya.

Story               : ceritakan. Karena cerita yang terstruktur akan membuat mudah diingat dan membekas di memori audience.

 

5. Ceritakan secara otentik

 

Langkah terakhir yang perlu Anda perhatikan dalam menyampaikan cerita adalah menjaga keotentikannya. Katakan apa adanya, sejujurnya. Jangan melebih-lebihkan dan jangan mengurangi dengan tujuan apapun.

 

Setelah mengetahui 5 langkah kuncinya, kini giliran Anda yang membuktikan betapa bermanfaatnya menyampaikan cerita dalam training Anda. Untuk memulainya, ambillah sebuah buku dan mulai menuliskan cerita yang telah Anda gali dalam pengalaman atau masa lalu Anda. Gunakan matriks diatas. Kemudian ceritakan pada sahabat atau pasangan Anda, lalu cek, apakah mereka mendapatkan hikmah / pelajaran sama seperti tujuan yang Anda harapankan? Jika belum, berlatihlah lagi, lagi dan lagi. Hingga Anda mendapatkan pola cerita yang dimengerti dan membekas di memori orang yang mendengarkan cerita Anda.

 

I heartfully wish you luck.

4 Comments

  1. 11/03/2015    

    Keren, tulisannya lengkap dan detil sekali. Bravo mba Mayang

  2. agus putranto's Gravatar agus putranto
    12/03/2015    

    trimakasih ilmunya mbak mayang, luar biasa. thank you so much pokoke, to

  3. Misbahuddin's Gravatar Misbahuddin
    14/03/2015    

    Bagus!… Kereen!… & Sangat bermanfaat…
    Setau sy.. Dulu awal2 Ust Yusuf Mansur mnjadi seorng penceramah.. Jg slalu atau seringkali berCerita… & Salah satu kekuatan ceramah nya Ust Yusuf Mansur jg adalah dng Cerita2 nya yg penuh inspirasi & Menyentuh hati…

  4. Mohd Rosli's Gravatar Mohd Rosli
    09/11/2016    

    Nama saya Mohd Rosli dari Malaysia. Saya memang hendak belajar cara dan teknik menulis storytelling yang baik. Saya sudah baca apa yang ditulis dan saya mengucapkan jutaan terima kasih. Kalau boleh tolong ajar saya yang masih baru dalam storytelling ni.Saya juga mohon izin guna ilmu ini untuk dunia dan akhirat. Sekali lagi, tolong bantu saya. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What They Say

Follow Me